Home

Many experience i’ve today. Banyak sekali pengalaman hari ini yang saya dapatkan. Dari membaca blog orang yang berwawasan luas, share dengan teman sekantor tentang pengalaman hidupnya, dan beberapa hal lain. Ternyata berkumpul dengan orang yang berkualitas membuat kita sedikit tertular dengan kualitas dari orang tersebut. Terdengar sedikit lucu memang, tetapi itu benar adanya. Seperi contoh lain, seandainya ada orang yang sudah bisa dikatakan dewasa berkumpul dengan lingkungan yang bisa dikatakan masih labil maka orang tersebut sifatnya belum tentu dewasa sesuai dengan umurnya.

Oops, sepertinya saya jauh membahas dari tema yang saya akan tulis. Anyway, beberapa wktu lalu saya menuliskan tentang “Loyalitas” dan saya mendapatkan referensi yang tepat untuk mengartikan loyalitas tersebut. Saya mendapatkan referensi ini dari blog pribadi “Ali Budiman”. Pada tema sebelum saya membahas mengenai perusahaan atau pengusaha yang dengan mudahnya mengatakan atau men-judge bawahan atau karyawannya dengan kata “tidak loyal”. Ali budiman mengatakan, perusahaan yang sejatinya adalah seorang karyawan di perusahaan tersebut. Membingungkan memang kata-kata tersebut. Maksud dari Ali Budiman adalah, karyawan tersebut kebetulan menjadi penentu kebijakan atau pengambilan keputusan dan memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi. Dalam dunia kerja, karyawan yang mengambil keputusan tersebut levelnya bisa dikatakan sebagai “atasan”.

Pada perkembangannya pengertian semakin bergeser menjadi “kepatuhan bawahan terhadap apapun yang diperintahkan atasan”. Dan hal tersebut membuat karyawan harus selalu meng-IYA-kan seluruh perkataan  atasannya. Dan banyak karyawan akhirnya melakukan segala hal asalkan atasan puas (berkelakuan baik untuk menjilat atasan). Akhirnya terciptalah pengertian baru dari kata loyalitas yaitu menjilat.

Sekarang, dilihat dari posisi karyawan loyalitas memiliki makna kesetiaan pada pekerjaan atau profesi. Sementara perusahaan dijadikan media untuk bekerja dan memperoleh penghasilan sesuai dengan kesepakatan. Jika ada kewajiban diluar kesepakatan (seperti lembur) maka harus ada kompensasi atau benefit tambahan. Dari sudut pandang ini, karyawan berharap dianggap sebagai partner oleh perusahaan (dianggap penentu berjalannya perusahaan). Karyawan hanya akan loyal terhadap perusahaan tempatnya bekerja jika menemukan kenyamanan dan rasa aman. Dia merasa nyaman dengan lingkungannya, dengan sikap atasan atau rekan kerjanya. Merasa aman dengan masa depan dan karirnya. Jika rasa aman dan nyaman tersebut terwujud maka dengan sendirinya loyalitas karyawan akan meningkat.

Kedua pemahaman arti kata loyalitas tersebut tentu saja berbeda dan berseberangan ( headline : Part I dan Part II ). Perusahaan, termasuk juga karyawan pengambil kebijakan perusahaan yang (merasa) mewakili perusahaan, memahami loyalitas adalah kepatuhan pada perusahaan (atasan, peraturan) tanpa syarat. Sementara karyawan memahami arti kata loyalitas sebagai kesetiaan terhadap profesi dan pekerjaan, bukan pada atasan atau perusahaan.

Kemudian, pemahaman yang manakah yang benar ? manakah yang lebih sesuai untuk era baru ini ? semuanya dikembalikan pada pribadi masing-masing, dan saya lebih memilih loyalitas pada pekerjaan pada profesi bukan pada atasan atau perusahaan. So, apa yang kalian pilih ?

Sumber utama : www.alibudiman.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s