Home

Kali ini saya ingin share tentang apa yang telah saya lalui mengenai pekerjaan. Ok, saya akan flashback. Setelah satu setengah tahun yang lalu, saya bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar sebagai salah satu karyawan kontrak. Pada awalnya, saya tidak terlalu antusias dengan perusahaan ini. Namun, saya ingat perkataan seorang guru saat lulus dari sekolah menengah kejuruan “pekerjaan pertama yang kamu dapatkan, hendaknya kamu syukuri karena ingatlah begitu susahnya ribuan orang diluar sana mencari lapangan pekerjaan”. Karena wejangan tersebut, saya mengambil pekerjaan tersebut.

 Ini merupakan kali pertama saya terjun didunia kerja, dengan pengalaman yang sangat minim saya berani mengambil resiko untuk kedua kalinya jauh dari orang tua saya. Well, karena pengalaman yang minim, saya bisa mengatakan bahwa tenaga dan pikiran dimanfaatkan berlebih. LOL. Ini hanya sebuah persepsi pribadi saja. Awalnya, jobdesk tersebut hanya sebatas administrasi dan men-handle sebagian permasalahan komunikasi. Tanpa training maupun pengajaran melainkan semua dipelajari secara otodidak. Dan pada akhirnya, bisa dikatakan saya sudah mencapai penanganan yang ahli. Pendek cerita, yang terjadi pada prakteknya berbeda dengan pembekalan yang saya dapatkan di dunia pendidikan. Dikatakan, bekerjalah sesuai dengan tugas yang kamu emban. Tetapi, pada faktanya yang ada hanya sebuah loyalitas yang berlebih tanpa mempertimbangkan sudah layakkah apa yang saya dapatkan dengan apa yang saya kerjakan. Ini pernah berulang-ulang kali terpikirkan, akan tetapi saya melakukannya karena itu sudah merupakan tuntutan ( karena saya termasuk tipikal orang yang malas dan tidak ingin ribet tentang pekerjaan, selagi bisa maka saya akan kerjakan).

 Keluar dari perusahaan tersebut karena alasan keluarga, saya beralih mencari pekerjaan di daerah asal dimana saya dilahirkan. Tidak diperhitungkan, saya saat ini berkutat dengan dunia perkreditan kendaraan bermotor (mobil.red) dan tidak pernah terlintas dipikiran saya tentunya. Sudah 9 bulan saya di perusahaan ini, perusahaan terbesar dan bertahap international yang menurut orang-orang sangat bagus dan berkualitas di setiap individu yang bekerja disana, dan saya berhadapan lagi dengan kata “loyalitas”. Job desk yang saya terima tidak sesuai apa yang saya kerjakan. Dan ini sangat jauh berbeda dibandingkan pada saat saya mengawali karir saya. Ingin rasanya mengadu, tapi saya harus mengadu pada siapa ? hanya bisa menggerutu dan menggerutu disaat saya tertekan dengan situasi tersebut.

 Loyalitas berasal dari kata dasar “loyal” yang berarti setia atau patuh. Loyalitas berarti mengikuti dengan patuh dan setia terhadap seseorang atau system/peraturan. Istilah loyalitas ini sering didefinisikan bahwa seseorang akan disebut loyal atau memiliki loyalitas yang tinggi jika mau mengikuti apa yang diperintahkan. Perusahaan atau pengusaha mengartikan loyalitas adalah suatu kesetiaan karyawannya kepada perusahaannya. Tetapi dalam perkembangan dan fakta yang ada, arti kata loyalitas sering dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memanfaatkan karyawan semaksimal mungkin tanpa memperhatikan kebutuhan karyawannya. Dalam tahap ini, saya dapat mengatakan bahwa karyawan tidak memiliki posisi tawar yang seimbang. Mengapa demikian ? hal ini dikarenakan perusahaan menganggap hubungannya dengan karyawan tidak sebagai partner melainkan sebagai majikan yang memberikan upah. Sebuah paradigma yang masih tersisa dari era perbudakan.
 
Perusahaan pun akan dengan mudah memberi label “tidak loyal” kepada karyawannya jika karyawannya tersebut tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh perusahaan, misalnya tidak mau bekerja lembur atau tidak mengikuti suatu kegiatan diluar jam kerja.

Hmm, lalu apa nasib karyawan selalu seperti ini ? apa setiap individu harus membuat lapangan kerja agar menjadi seorang majikan atau atasan ? lalu apa yang terjadi seandainya itu terjadi, siapa yang akan menjadi bawahan atau karyawan. Dunia kerja memang aneh, walaupun kita terdesak, tidak terima, menggerutu dengan pekerjaan yang berjibun tetap saja kita kerjakan. Dari itu semua saya masih berusaha dan memasuki tahapan menjadi pribadi yang “legowo” atau menjalani pekerjaan dengan niatan ibadah seperti dalam ajaran agama yang saya anut. Dan tentunya Tuhan mempersiapkan sesuatu yang terbaik dari itu semua. Loyalitas yang utuh hendaklah hanya kepada Sang Kuasa pemberi kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s